2 Mei 2020

Awal kisah, Mei 2020

Bismillah,

Awal Mei 2020, saya diingatkan oleh seorang teman melalui "email" yang membawa kembali kenangan untuk menegaskan bahwa saya telah memiliki sahabat2 luar biasa.

Berikut suratnya, semoga bermanfaat.





Purbalingga, 1 Mei 2020
Bukan dari Ketua Genre Jateng,
Surat ini dari Ilham Dwi Hatmawan.


Teruntuk Orang-orang Luar Biasa
yang Pernah Aku Temui dan Selalu Sayangi,

Halo, apa kabar teman-teman? Sepertinya, sudah lama ya kita tidak bersua? Rasa- rasanya virus korona berhasil membuat aku semakin rindu sama kalian. Di setiap rasa rindu, selalu aku selipkan nama-nama kalian di dalam doaku agar di manapun teman-teman berada, apapun yang sedang menyibukkan teman-teman, semoga semuanya dalam keadaan sehat, bahagia, dan sejahtera.

Tidak terasa, hampir tiga tahun kita saling kenal-mengenal. Hampir tiga tahun juga aku selalu bersyukur telah diberikan anugerah orang-orang seperti kalian yang luar biasa. Luar biasa heboh, luar biasa tenang, luar biasa suportif, luar biasa membantu, luar biasa cantik, luar biasa tampan, dan luar biasa bermakna. Pernah aku bingung, kenapa dulu Alloh swt., Tuhan Yang Mahaesa mengarahkan hatiku untuk kalian. Sampai pada akhirnya aku menemukan jawaban, bahwa kalian adalah alasanku meneteskan air mata di setiap doa malamku. Iya, kalian. Kalian semua.

Berjumpa dengan kalian adalah anugerah Tuhan yang terindah. Berjumpa dengan kalian terasa berjumpa dengan kawan lama dari masa depan. Berjumpa dengan kalian, membuat aku merasa memiliki kakak, teman, dan adik yang sungguh-sungguh telah lama aku nantikan. Kejadian yang aku alami semalam mendorongku untuk menuliskan surat ini untuk kalian yang aku jumpai dari masa depan. Dengan tidak sengaja, aku jatuhkan wadah tinta hitam ke atas kertas putih di meja kamarku. Ternyata aku kesal sendiri dengan kesalahanku. Tuhan, mengapa aku seceroboh ini?

Di balik itu, ternyata Tuhan sedang mengirimkan pesan. Mungkin pesan yang selama ini aku  tunggu-tunggu.  Seketika,  tanganku  kaku,  leherku  menghangat,  serasa  jantung memacu aliran darah terlalu kencang. Aku merasa diberikan dua pilihan dalam memandang kertas yang ternoda itu. Fokus ke titik-titik tinta hitam yang sebetulnya tidak juga terlalu banyak, atau pada bagian putih bersih yang jauh lebih luas. Ya, ini mengubah caraku memandang dunia, memandang kalian.

Aku merasa menjadi orang yang paling berdosa, ketika mengingat kembali momen awal kita dipertemukan. Dari bertemu Shan-shan sejak di sekolah alun-alun; Bella dan Febby untuk penugasan duta; Mba Dea dan Mas Ibrahim untuk persiapan ke Padang Panjang; Mas Faiz, Mba Heni, Mba Amel, Mas Michael, dan Mas Priska untuk persiapan temu kerja di Hotel @HOM; Nanang, Lukluk, Gendro, dan Mba Bella ketika kita juga dipertemukan di temu kerja; serta Mba Mentari dan Farah untuk pertama kalinya di temu perdana dan harganas di Jalan Pemuda. Fokusku hanya kepada kekurangan kalian, teman-teman. Tidak ingat bahwa aku juga masih jauh dari cukup baik, apalagi sempurna.

Aku masih ingat betapa Febby sangat mau untuk belajar, Mba Heni yang selalu siap untuk membantu, Mba Dea yang selalu berusaha mengerti, Lukluk yang ringan tangan, Gendro yang mau untuk berjuang dengan keras, Shan-shan yang cara memberikan perhatiannya berbeda dari kebanyakan orang, Mba Bela yang selalu menjadi penengah, Mas Priska yang siap 24 jam dalam sehari bahkan 7 hari dalam seminggu untuk membantu, Mas Ibrahim yang selalu menenangkan suasana, Nanang yang luar biasa cepat merespon, Bella yang sampai  sekarang terus mau belajar  untuk tumbuh,  Mba Mentari yang  tidak sungkan memberikan pemikiran, Mba Amel yang mau untuk membantu, Mas Faiz yang luar biasa solutif dalam saran-sarannya, Mas Michael yang mau mendukung, serta Farah yang konsisten dengan ide-ide barunya. Tidak cukup memang sepenggal kata untuk mengilustrasikan kebaikan-kebaikan kalian. Segala kebaikan kalian akan selalu aku ingat sepanjang hayat. Aku tidak tahu akan sampai kapan bisa terus mendoakan kalian. Namun, selagi mampu, nama kalian akan selalu ada pada terima kasihku dan doa-doaku.

Mohon maaf dengan tulus aku sampaikan kepadamu, orang-orang luar biasa yang telah memberikan dampak baik kepadaku, namun belum mampu aku membalasnya, bahkan dengan perlakuan sederhana yang membahagiakan kalian. Mohon maafku untuk aku yang belum bisa membuat teman-teman merasa berharaga, untuk teman-teman yang belum mampu menjumpai alasan untuk tertawa pada pertemuan-pertemuan kita, untuk teman- teman yang masih merasa sedih, marah, dan kesal ketika mengingat atau mendengar namaku, dan untuk teman-teman yang pernah terdampak dari kecerobohanku menjatuhkan tinta ke lembaran bersih pertemanan kita.

Aku berharap masih bisa melihat senyum kalian dan setidaknya memberikan rasa hangat sekali lagi. Terus kejar mimpi teman-teman. Teruslah berkarya. Setelah semua yang kita lalui, ingat bahwa Alloh swt., Tuhan Yang Mahaesa selalu bersama kita yang mampu menafsirkan kebaikan dalam doa-doa dan usaha. Teman, aku rindu kalian.




Dari dia yang ingin menjadi teman,
Ilham Dwi Hatmawan



27 Apr 2020

Brief Story part 3

Ini yang terakhir Insya Allah

Suasana baru 2. Masih dalam suasana baru, malam hari selepas mengisi talkshow dalam rangkaian capacity building untuk remaja yang diselenggarakan BKKBN Provinsi Jawa Tengah di Hotel Lor-In Surakarta (23 Mei 2017), kudapati pengumuman bahwa aku lolos menjadi salah satu finalis Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2017. Rangkaian pemilihan duta bahasa sudah aku ikuti sejak awal mei 2017 berdasarkan amanah dari fakultas, dimana Dekan secara langsung menugaskanku untuk kembali berjuang atas nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang. Rangkaian Grand Final pemilihan Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2017 secara kebetulan diselenggarakan di Hotel Safira Kota Magelang tanggal 22-23 Juli yang hanya 10 menit berkendara dari tempat tinggalku. Hasilnya, Alhamdulillah, selempang Juara 2 Duta Bahasa Jawa Tengah 2017 disematkan dipundakku. Kembali suasana baru kudapati sebagai sebuah amanah ditahun 2017, selaku keluarga besar Ikatan Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Merantau. Tak dapat kukatakan merantau, ketika selama 5 hari aku pergi ke Kota Bogor di akhir tahun 2016 lalu. Atau saat 3 hari mengikuti rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke XXIV Bulan Juli 2017 di Kota Bandar Lampung. Juga saat 6 hari menjadi mentor Duta Genre Provinsi Jawa Tengah 2017 Bulan Oktober di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat pada pemilihan Duta Genre Indonesia 2017. Namun, selama sekitar 1 bulan aku mengikuti Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah (KKNMU) di Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan, “merantau” adalah istilah tepat bagiku.
Allah sungguh memberikan apa yang hambanya perlukan, bukan apa yang hambanya inginkan. Tak dapat kubayangkan saat itu jika aku terpilih menjadi Juara 1 Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2017, dimana pertengahan agustus 2017 harus berlaga di tingkat nasional dan berkunjung ke Istana Merdeka pada tanggal 17 Agustus, sedangkan 30 Juli aku harus take off ke Sumatera Selatan. Betapa banyak pihak yang akan “kerepotan”, termasuk aku sendiri yang harus menjalani KKN di tempat yang tak dapat kubilang dekat. Dalam hati kuucap “Alhamdulillah,.. البارئ ..Allah sungguh Maha Perencana terbaik”. Selain Pemilihan duta bahasa di tingkat nasional, pada Bulan Agustus tepatnya tanggal 22-24 juga diselenggarakan Pemilihan Duta Genre Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2017 di Kota Semarang. Satu event  yang juga ku lewatkan demi mengikuti KKNMU (Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah) ini. Alhamdulillah, juara 2 Duta Genre Provinsi Jawa Tengah 2016 Putra menggantikan tanggung jawabku untuk memberikan slempang amanah kepada Duta Genre Provinsi Jawa Tengah 2017 terpilih.
Rantauan singkat melalui KKNMU mengajarkanku sikap & sifat baru. Mengajarkan pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak dapat pula kubayangkan saat kita tak memiliki bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia. Bagaimana jadinya para peserta KKNMU dari seluruh Indonesia untuk berkomunikasi satu sama lain? Jangankan dengan masyarakat, sedangkan dengan 1 kelompok KKN saja tak dapat berkomunikasi?. Inilah peranku sebagai seorang duta, baik duta bahasa maupun duta genre. Amanah duta bahasa menjadikanku tau & mau untuk berbagi serta berdiskusi tentang pentingnya bahasa untuk berkomunikasi. Amanah duta genre menjadikanku cakap & paham untuk bercengkrama dengan masyarakat, terkait perencanaan hidup kedepan, khususnya remaja. Kesempatan KKN ini adalah momen yang tepat, untuk dapat berbagi semua hal yang ku tau dengan tanpa menggurui mereka. Alhamdulillah, masyarakat, remaja & pemuda, serta siswa-siswi SMP dan SMK di Kecamatan Tanjung Batu menerima dengan baik hal ini, sehingga menjadikan kepuasan tersendiri dalam kisah rantauan singkatku.

Mahasiswa semester atas, Senior?. Tak terasa sebulan lebih aku merantau ke negeri orang. Tanggal 30 Agustus 2017 aku & kawanku ber-empat dari Universitas kembali pulang ke kampung halaman, membawa berbagai kenangan yang ada. Hari berganti hari, tak terasa pula 6 semester telah kulalui. Sedikit berasa, saat kulihat Kartu Hasil Studi (KHS) semester 6 dengan nilai IP 3.89. Tak heran memang, namun, menurutku ini setimpal dengan apa yang kudapat di semester 6 ini khususnya. Hal ini memacuku lebih untuk mempertahankan bahkan meningkatkan nilai. Bulan Oktober 2017, kumulai langkahku sebagai mahasiswa semester 7. Pada semester ini, aku juga harus mengikuti kuliah lapangan yang aku tunda saat semester 5 karena mengikuti event Duta Genre Indonesia.
Mahasiswa semester 7 sering mengatakan bahwa, “Inilah kami para senior”. Wajar kukira, karena tak ada lagi mahasiswa semester di atasnya, kecuali mahasiswa semester panjang yang saking cintanya sama kampus. Kata “senior” bukanlah maksud hal kekuasaan dan tak butuh bantuan. Justru kami mahasiswa semester 7 sangat membutuhkan bantuan dari mahasiswa 3 tingkat dibawahnya, 5, 3, dan 1 untuk mendukung kami, baik akademis, maupun non akademis. Dalam hal akademis, kami perlu bantuan untuk mengingat kembali jikalau beberapa mata pelajaran sudah mulai kami lupakan. Kami perlu diingatkan dan diluruskan apabila ada kesalahan. Dalam hal non akademis, kami perlu semangat kalian adik-adikku, untuk menggantikan kami dalam memimpin ormawa baik ditingkat fakultas maupun universitas, karena kami yakin akan sibuk dengan persiapan dan penyelesaian tugas akhir. Itulah maksud kata “senior” dalam pandanganku. Pada semester ini, hampir seluruh kegiatan ormawa aku sudahi untuk mencoba lebih fokus pada perbaikan nilai dan penyusunan tugas akhir. Hasil akhir semester 7? Alhamdulillah, nilaiku berhasil meningkat dengan IP di angka 3.97, meskipun belum sempurna, namun cukup kurasa.


Paripurna?. Semester 8 berawal setelah Kunjungan Industri/Kuliah Lapangan yang diselenggarakan fakultas ke Surabaya-Bali (3-6 April 2018) ku ikuti. Disebabkan per februari 2018 aku bergabung dengan salah satu unit kerja di universitas, maka perlu ijin kerja dari pimpinan unit. Disela-sela pengerjaan skripsiku, aku juga disibukkan dengan “ngantor”, sebagai staf administrasi di Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang. Semester 8, adalah penentuan, sukses atau tidaknya perkuliahan mahasiswa bidikmisi untuk jenjang S1, karena pendanaan berhenti disemester ini. Lalu, kenapa tidak fokus untuk kuliah saja, menyelesaikan tugas akhir?. Jawabannya, pilihanku bergabung dengan MTCC, selain melatih kemampuan dan pengalaman bekerja, uang saku yang kudapatkan juga meringankan keperluan-keperluan pribadiku. Terutama penunjang kebutuhan tugas akhir hingga wisuda yang tak dapat dibilang sedikit. Alhamdulillah, orang tuapun merasa terbantukan. Selain itu, pengerjaan tugas akhir adalah proses yang menyenangkan bagiku asalkan segala sesuatunya telah disiapkan dengan matang.
Rangkaian tugas akhir menuju “paripurna” yang dimulai sejak penyusunan proposal, seminar proposal, ujian skripsi, dan pendadaran serta berbagai macam bentuk bimbingan dengan dosen pembimbing mengajarkanku banyak hal. Ketekunan, ketelitian, ketahanan, kesabaran, hingga kebersamaan serta proses-proses dan kenangan panjang tak sedikitpun terlewatkan. Alhamdulillah, إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا  , “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”, usahaku terbalas saat aku melihat dosen pembimbing dalam ujian skripsi. Beliau tersenyum puas pertanda bagus pikirku. Dan benar, alhamdulillah, saat pengumuman aku mendapat nilai A, baik skripsi maupun pendadaran (ujian komprehensif). Akhirnya disemester terakhirku, kembali kudapatkan nilai IP 4. Ya, meskipun tidak sempurna dengan total IPK 4, namun cukup menjadikanku wisudawan terbaik untuk jenjang Strata 1, Universitas Muhammadiyah Magelang pada wisuda angkatan ke-69 tahun 2018.  
Menjadi wisudawan terbaik tentunya tidak menghentikan langkahku untuk terus berkarya. Memang benar bahwa langkahku sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang telah paripurna. Namun, prestasi yang baru saja ku mulai, akan terus ku tingkatkan di kesempatan mendatang. Tentunya, terkhusus apa yang aku dapat dari perjalananku sebagai mahasiswa tak lepas dari nikmat Allah melalui beasiswa bidikmisi ini.

Kisah Baruku. Tak terasa, telah kumasuki tahun ke-dua di Kantor MTCC UMMagelang, lebih kurang 1 tahun setelah aku dinyatakan lulus dan menjadi Sarjana Ekonomi dari almamaterku tercinta. Hari ini, Senin, 18 September 2019, adalah salah satu hari dimana ribuan calon pencari ilmu yang terdaftar sebagai kandidat calon penerima beasiswa LPDP untuk program magister dan doktoral berdebar-debar menunggu keputusan. Ya, keputusan apakah diterima sebagai “awardee” tahun ini, atau harus berjuang lagi tahun depan. Alhamdulillah, selepas pulang dari kantor, ba’da maghrib tepatnya, kulihat smartphone-ku, dan aku tersenyum. Allah kembali memberikanku kesempatan untuk kembali menimba ilmu, kali ini untuk program magister. Dan kali ini, bukan di negeri sendiri, melainkan di negeri orang, United Kingdom. Pengumuman ini langsung ku sampaikan pada ayah, ibu, dan kakak, serta dosen pembimbingku. Seketika, malam itu juga bermunculan ucapan selamat dan do’a kepadaku agar Allah senantiasa melimpahkan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan studi lanjutku kedepan. Aku sangat bersyukur dan sesaat terlintas dalam benakku, saat hari pertama proses bimbingan skripsiku (Senin, 9 April 2018), dimana sebelum masuk topik bimbingan kusampaikan dua brosur universitas di United Kingdom seraya kusampaikan kepada dosen pembimbingku “Pak, setelah lulus S1, saya ingin melanjutkan kuliah di salah-satu universitas ini, mohon saran dan masukan bapak”. Dosen pembimbingku-pun tersenyum, dan beliau menyampaikan “Semuanya bagus, tapi Mas Ibrahim fokus dulu untuk menyelesaikan skripsinya ya”. Aku pun tersenyum kala itu, namun pikirku, ini tidak terlalu dini untuk menyampaikan ke beliau bukan? Bukankah aku telah bermimpi untuk kuliah diluar negeri sejak 2016? Menyiapkan segala sesuatu untuk mendaftar beasiswa LPDP sejak tahun 2016?. Iya, aku hanya harus lebih fokus pada apa yang aku hadapi sekarang, dengan tanpa mengurangi persiapan untuk tujuan masa depan.
Menjadi “awardee” LPDP ternyata tidak semudah yang aku kira sebelumnya. Mendapatkan pengumuman “SELAMAT ANDA TELAH LULUS SELEKSI SUBSTANSI” tidak berarti perjuanganku berakhir. Masih banyak proses yang harus kulalui kedepannya. Termasuk program Persiapan Keberangkatan, yang kata kakak-kakak penerima beasiswa LPDP terdahulu sungguh sangat “ribet” dan melelahkan, program Pengayaan Bahasa yang pasti akan menciptakan kisah-kisah baru untuk masing-masing awardee, sampai pada saat perkuliaan, serta pasca lulus dan kewajiban untuk kembali ke Indonesia untuk membangun negeri. Kembali kuyakinkan diri bahwa “Inilah langkah awalmu, Janganlah bersenang-senang dulu, Kamu baru akan mulai untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang ada”. Mulailah bermunculan rasa cemas, gelisah, dan sebagainya dalam fikiranku. Namun, aku yakin, “لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا”, aku takkan ragu, karena Allah bersama kita. Aku yakin Allah akan senantiasa membantuku dalam menggapai cita-cita, selama aku mau berusaha untuk melakukan yang terbaik.